Selain kemampuan jaringan, kemampuan berpolitik, modal utama memenangkan
pilkada level provinsi adalah kemampuan financial/uang. Alasannya sederhana:
a. Partai
politik butuh mahar politik
b. Tim sukses
butuh uang bensin
c. Kampanye
butuh Anggaran dan
d. Saksi tiap
TPS butuh honor
Banyak kandidat menghindari asumsi ini tetapi secara kasat mata
masyarakat sudah tahu dan memahami. Bahkan terang-terangan, kelompok masyarakat
tertentu tidak akan malu minta imbalan apabila dia ingin memilih calon
tersebut. Kata sebagian orang sekarang, hal ini dimaklumi saja dan sudah lazim
dijalankan. Akan menjadi boomerang, apabila kandidat tertentu mengklaim bahwa
model politik yang dijalankan bukan politik transaksional. Lantas masyarakat
akan dengan santai berceloteh demikian, “ om bilang politik tanpa doi ni, om
sadar ko sonde? Jangan sampe om sakit ko mau tipu-tipu nih.” Coloteh demikian bukan
tanpa alasan karena warisan politik yang sudah dan sedang dijalankan memang
demikian. Apakah harus diterima? Hal ini tidak harus diterima sebagai kebenaran
akan politik yang harus dan lazim dilakukan karena politik transaksional akan
mengakibatkan ketimpangan dalam menjalankan roda kepemimpinan setelah menang
pemilihan.
Temuan fakta di lapangan menggambarkan demikian:
1. Hampir
sebagian calon pemimpin yang melakukan money
politik pada saat proses pemilihan berpeluang melakukan tindak pidana
korupsi. Mengapa? Modal yang telah dikeluarkan dalam proses pemilihan dengan
jumlah yang sangat besar perlu dikembalikan. Kata orang, “ beta su picah-picah
saat pemilihan, na saat be pimpin nih beta harus ambil kembali modal dulu.”
Kemungkinan apa yang akan terjadi? Gaji sebagai kepala daerah tidak mencukupi
untuk menutupi lubang ini. Caranya: cubit sedikit-sedikit atau bila perlu cubit
besar dari porsi anggaran daerah yang ditetapkan. Kalau cubitnya cantik dan
dapat dipertangungjawabkan yah, alhamdulilah. Apabila cubitnya tanpa
perhitungan yang matang maka rumah merah siap menampung. Dengan demikian,
masyarakat yang mendukung kandidat tersebut rugi. Ongkos anggaran dari negara
yang sudah dikeluarkan besar-besaran menghasilkan pemimpin yang berada di rumah
merah.
2. Kasak-kusuk
di medan perpolitikan menceritan demikian, untuk mendapatkan restu partai
seorang calon pemimpin dan wakilnya harus menyiapkan mahar politik. Untuk level
provinsi, mahar politik dalam hitungan ratusan juta tidak ada artinya. Kalau
mahar politik cuma demikian, banyak orang yang akan mencalonkan diri. “ratusan
juta mah kecil, mahar politik untuk orang nomor satu provinsi lebih dari 1 M.”
ujar politisi senior. Kalau demikian, bagaimana mendapatkan modal yang begitu
besar untuk mahar politik ini?
a.
Sokongan
modal dari pengusaha
b.
Patungan
dari para politisi dan pemilik modal
c.
Pinjaman Bank
Poin yang ketiga sangat kecil kemungkinannya
karena bank tidak tidak gampang memberi pinjaman dalam jumlah lebih dari 1 M.
jadi poin pertama dan kedua sangat potensial.
Apa yang akan terjadi dari modal yang diperoleh
dari pengusaha dan patungan para politisi?
a.
Modal
tersebut akan dikembalikan saat memimpin dengan memberikan proyek
b. Pemilik
modal dan politisi yang turut dalam patungan anggaran ini akan mengontrol pimpinan
daerah dengan menitipkan kepentingan-kepentingan mereka. RAPBD kemungkinan
besar akan disetir oleh kelompok ini guna memuluskan kepentingan mereka. Kata
orang, bagi-bagi kue RAPBD. Apakah kebijakan strategis kepala daerah akan
berorientasi kerakyatan? Silahkan melihat dan menilai sendiri. “Yang diutamakan
adalah bapak-bapak dan om-om yang sudah sumbang kasi beta waktu pilkada. Kamu
yang su sumbang suara nanti dulu e, nanti saat acara di rujab baru saya undang
kamu. ” Bisik sang pimpinan dalam hati nanti.
Dengan melihat kebiasaan ini, masyarakat biasanya apatis, “Sudahlah
tidak papa, toh kalau yang lain memimpin juga sama saja.” Atau alasan lain akan
dilontarkan demikian, “tidak papa, ini pilihan minus malum, dari pada pilih
orang lain. Biar dia buruk tapi dia pilihan yang terbaik dari buruk-buruk yang
ada.” Apakah alasan demikian harus diterima saja? Kadang kebiasaan seperti ini
mengangkangi akal sehat. Apabila kebiasaan seperti ini dibiarkan dan didiamkan
saja maka kebiasaan ini akan melahirkan suatu kebenaran baru. Ingat, “kesalahan
yang dilakukan berulang-ulang bisa melahirkan kebenaran baru.”
Selamat memasuki tahun politik NTT 2018. Semoga caramu berpolitik tidak akan melahirkan kutuk dari generasimu di kemudian hari karena warisan nilai-nilai politik yang sesat.
El Ro Kapitan

Komentar
Posting Komentar